Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2020

Emas Dan Terpuruknya Rupiah - Part 1

Emas Dan Terpuruknya Rupiah - Part 1


Kita tahu bahwa Emas dan perak menjadi instrumen keuangan yang solid sejak ribuan tahun lalu. Telah dibuktikan dalam sejarah kestabilannya,  dan dianjurkan dalam agama untuk transaksi menggunakan dua instrumen ini.

Dulu, setiap uang kertas dijamin dengan emas termasuk INDONESIA. Di Era pemerintahan presiden Soekarno, beliau dengan cerdas membuat sistem keuangan yang solid untuk rakyat indonesia melalui dekrit No. 19 tahun 1946, yang menyatakan bahwa setiap ORI (Oeang Republik Indonesia) wajib dijamin oleh emas. Saat itu, setiap Rp 2, senilai dengan 1 gram emas.

 

Namun sejak 1971, Presiden Amerika Serikat Richard Nixon memutuskan bahwa uang kertas dollar tidak lagi diback-up dengan emas. Hal ini pun disepakati IMF dan world bank,  sehingga menjadi sistem yang diterapkan di seluruh dunia, termasuk INDONESIA.

 

Setelah 1971, Uang kertas di seluruh dunia TIDAK LAGI di back-up emas atau perak. Maka seketika itu juga, Uang kertas di Seluruh  dunia adalah UTANG.

 

Belum selesai sampai di situ, penggunaan emas pun semakin dibatasi. Setelah jaminan emas di cabut oleh Presiden Nixon tahun 1971, Amerika MELARANG rakyat sipil untuk memiliki emas atau perak. Semua yang memiliki Emas dan Perak adalah Illegal, Dianggap kriminal dan terancam dipenjara

 

Hal yang sama terjadi di Indonesia. Ya, meskipun tidak sekejam Amerika. Pemerintah menerbitkan Peraturan UU Nomor 7 Tahun 2011 yang berbunyi: "setiap orang yang tidak menggunakan rupiah dalam setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran dan transaksi keuangan lainnya akan dikenakan pidana denda maksimal Rp 200 juta dan pidana kurungan maksimal satu tahun"

 

Pemerintah Indonesia memberlakukan Emas sebagai "Komoditas", Bukan sebagai "alat tukar". Jadi, emas dianggap sama seperti minyak, gas, batu bara, dan semisalnya. Memiliki Emas di Indonesia sebagai komoditas adalah legal. Namun menggunakan emas sebagai alat tukar adalah Illegal. Bisa terancam didenda dan dipenjara.

 

Tentunya ada alasan dibalik dilarangnya penggunaan emas dan perak di seluruh negara di dunia, yang akan kita bahas nanti.


Selasa, 13 Oktober 2020

Gaji 8 Juta, Yang Satu Kaya Raya, Yang Satu Ngepas, Yang Satu Miskin. Kok Bisa?

Gaji 8 Juta, Yang Satu Kaya Raya, Yang Satu Ngepas, Yang Satu Miskin. Kok Bisa?

 

Ada salah satu resep kecukupan dalam keuangan yang sebenarnya sudah diketahui oleh semua orang, Namun seringkali jarang diterapkan. Yaitu bersyukur.

Bersyukur dengan segala yang sudah kita miliki dan nikmati hingga saat ini, Yang ajaibnya, sifat  bersyukur ini bisa membuat kita merasa senantiasa cukup, bahkan mampu menggerakkan hati kita untuk bisa bersedekah atau berderma kepada orang lain.

Pernahkah teman-teman memperhatikan, bahwa pendapatan setiap orang sama sekali tidak menjamin kekayaan yang dimilikinya?

Misalnya, ada 3 orang yang bekerja di perusahaan yang sama, dengan gaji yang kurang lebih sama. Misalnya kita sebut saja, gajinya 8 jt per bulan. Yang pertama bisa hidup lebih dari cukup. Bisa jalan-jalan ke luar negeri, dan beli barang branded.

Yang kedua hidupnya ngepas aja, masih bisa nabung sih, tapi gak sampai hidup yang terlalu glamor. Sementara yang ketiga, gaji 8jt per bulan namun masih berkekurangan. Masih perlu cari hutangan sana sini. Kira-kira, mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal ini terjadi karena ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi keadaan finansial setiap orang, dan setiap orang dengan latar belakang berbeda tentunya akan memiliki masalah yang berbeda juga. Dari contoh 3 orang yang tadi, meskipun mereka bertiga memiliki penghasilan yang sama, namun latar belakang mereka sama sekali berbeda, sehingga keadaan finansialnya juga berbeda.

Yang pertama, masih lajang dan tinggal di rumah orang tua. Makan sehari-hari pun masih disediakan oleh orang tua. Sehingga hampir semua gajinya bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan primer dan sekunder, namun juga tersier, seperti travelling dan beli barang branded.

Yang kedua, adalah seorang kepala keluarga yang punya 3 orang anak, Dimana semua sudah masuk masa sekolah di kota besar di jakarta. Gaji 8 juta, untuk keluarga ini yang hidup di jakarta, bisa dibilang jumlahnya ngepas aja.

Jika penghasilannya sudah dikurangi dengan biaya sewa rumah, uang sekolah anak, dan kebutuhan pokok harian, maka mungkin hanya tersisa 10% sampai 20% untuk tabungan. Belum lagi dana darurat yang harus dipersiapkan jumlahnya juga. Cukup besar bagi keluarga dengan 3 orang anak.

Lalu yang ke 3, orang dengan gaji 8 juta namun masih sangat kurang bahkan harus cari hutangan. Kasusnya bisa bermacam-macam. Misalnya, mungkin ibunya mengalami sakit berat seperti kanker yang memakan biaya berobat sangat mahal, sehingga gajinya tidak cukup.

Mungkin juga kepala keluarga ini harus menanggung tidak hanya beban anak istrinya sendiri, namun juga harus menanggung kehidupan orangtuanya dan kedua mertuanya. Sehingga jumlah yang hidup dalam tanggungannya ada 7 orang.

Belum lagi orang tua biasanya memiliki kesehatan yang tidak terlalu baik, sehingga harus rutin juga keluar uang untuk berobat. Jadi merencanakan keuangan bagi setiap orang sangat berbeda beda, dan tidak ada formu atau rumus yang pasti bisa sama ditetapkan untuk semua orang, karena kondisi setiap orang berbeda-beda.

Satu-satunya partner terbaik untuk merencanakan dan mendiskusikan keuangan adalah pasangan atau keluarga kita, orang-orang yang kita percaya dan akan membantu kita dalam kondisi sesulit apapun.

Jadi, yuk mari bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini,
Dan bila perlu, yuk bantu juga mereka yang membutuhkan,
Terutama disaat masa-masa sulit seperti sekarang ini.




Selasa, 06 Oktober 2020

Pentingnya Menyediakan Rekening Terpisah, Kamu Sudah Siapkan?

Pentingnya Menyediakan Rekening Terpisah, Kamu Sudah Siapkan?


Sebelumnya kita sudah memahami bahwa ada beberapa pos alokasi keuangan yang perlu direncanakan pengeluarannya sejak dini. Untuk bisa mengatur kelancaran pembagian pos pengeluaran bulanan seperti ini, biasanya agak tricky.

Sebagian orang yang telaten mungkin bisa mengatur uangnya hanya dengan satu rekening saja. Namun, bagi saya pribadi, Punya satu rekening bank, agak menyulitkan. Untuk itu, agar bisa memaksimalkan anggaran lebih baik lagi, Akan lebih mudah jika  kita memiliki paling tidak 3 rekening terpisah.

Yang pertama, rekening khusus dana darurat.
Kita bisa tempatkan dana darurat di deposito. Deposito mungkin tidak memberikan imbal hasil yang besar. Jika dibandingkan reksadana atau saham. Namun fungsi utama dari dana darurat adalah Dana yang harus bisa segera dikeluarkan saat kondisi darurat terjadi.

Sehingga return investasi yang kecil tidak jadi masalah. Yang penting aman, dan bagus juga kalau Return investasinya bisa impas dengan inflasi. Beberapa bank sudah menyediakan fasilitas deposito otomatis dalam aplikasi mobile banking, yang menjadi satu dengan rekening utama, Untuk memudahkan nasabah dalam buka rekening deposito. Sehingga sangat mudah bagi kita untuk mengatur alokasi keuangan tersebut.

Rekening berikutnya yang perlu dipersiapkan terpisah adalah, Rekening belanja bulanan, dengan rekening untuk dana senang-senang. Ini cukup penting, agar kita tidak bingung uang yang ada larinya kemana saja. Rekening buat beli beras bulanan jangan disamakan dengan rekening buat beli kopi di café. Nah sekarang dengan semakin canggihnya dunia perbankan,

Beberapa bank sudah menyediakan fitur pembuatan rekening terpisah dalam satu aplikasi saja. Jadi kita gak pelu ribet buka rekening di banyak bank. Dalam satu platform, bisa ada beberapa rekening. Bahkan ada juga satu rekening khusus yang didedikasikan untuk bisnis. Jadi, coba tanyakan ke bank yang jadi tujuanmu ya,

Apakah sudah punya fitur multi rekening ini. Karena ini akan sangat membantu dan memudahkan. Idealnya, setiap pos alokasi keuangan apapun, perlu dibuatkan rekening terpisah. Meskipun tentunya tidak semua harus di bank.

Misalnya, untuk tujuan jangka panjang lebih dari 20 tahun, Seperti dana pensiun, baiknya tidak ditaruh di perbankan. Bisa dicoba alokasikan di reksadana campuran atau reksadana saham, Karena masa waktunya masih panjang, Sehingga bisa coba menggunakan instrumen investasi dengan return investasi yang sedikit lebih tinggi, dan resiko yang tetap terukur.

Untuk alokasi asuransi dan pembayaran cicilan bulanan, Bisa langsung menggunakan fitur auto debt dari rekeing utama. Nah dengan begini, akan lebih mudah melacak pengeluaran kita kemana saja, Dan menghindari kita dari pengeluaran-pengeluaran “siluman”.

Begitu aja kok. Gampang kan atur uang.
Lebih susah cari uang sih sebenernya, kan.




Kamis, 01 Oktober 2020

Millenial, Ini Alasan Penting Mengapa Kamu Wajib Coba Catat Pemasukan Dan Pengeluaran

Millenial, Ini Alasan Penting Mengapa Kamu Wajib Coba Catat Pemasukan Dan Pengeluaran

 

Pernah gak sih, kalian merasa duit kok cepet banget habisnya? Keluarnya tuh kemana aja, gak kerasa tahu tahu kantong udah tipis aja, padahal gajian masih seminggu lagi. Barangkali ini adalah keluhan kita bersama.

Iya, kita. Saya juga sesekali mengalami hal ini.

Jadi video kali ini selain untuk sharing ilmu, Juga sebagai pengingat bagi diri saya sendiri. Ada bocor-bocor halus uang keluar, yang sebenarnya itu tipis sekali, gak kerasa. Tapi ternyata kalau diakumulasikan sebulan bisa lumayan banget jumlahnya.

Duit yang keluarnya mungkin cuman seribu dua ribu, Tapi sering dikeluarkan setiap hari. Misalnya, bayar parkir yang satu jam nya dua ribu rupiah. Dan dalam sehari mungkin bisa dua atau tiga kali parkir. Dalam sebulan itu jumlahnya udah bisa hampir 100.000 s/d 150.000.

Atau buat kamu yang males bawa botol minum dari rumah. Lebih suka beli minum sambil jalan. Gak berat, dan begitu habis langsung buang. Air mineral itu satu botolnya 3000-an, bahkan ada yang 5.000an. Kalau sehari perlu 2 botol, nah sebulan udah tiga ratus ribuan aja kan.

Belum lagi kalau kamu tipe yang hobi minum minuman kekinian, Seperti boba, cheese tea atau harus minum di coffee shop. Wah kalau ini bisa-bisa bukan bocor halus lagi.

Tapi ini mungkin gak seberapa. Ada sumber kebocoran yang barangkali menjadi masalah utama. Yaitu, dompet elektronik seperti ovo, gopay, shopee pay, dan dana.

Seringkali kita abai menghitung pengeluaran dari dompet elektronik. Terutama bagi para pemburu diskonan, yang punya semua jenis dompet elektronik. Jadi bisa menyesuaikan merchant mana yang bisa memberi keuntungan diskon maksimal. Karena alokasi duitnya terpencar-pencar, maka agak sulit melacak jalur keluarnya.

Beda dengan pegang duit kertas. Kalau pakai duit kertas, Ketika kita mengeluarkan lembaran demi lembarannya, Berasa banget jumlah uangnya semakin berkurang. Kita bisa “pegang” duit yang keluar itu. Tapi dengan dompet elektronik, Keluarnya uang seakan seperti tidak berasa.

Oleh karena itu, sebuah penelitian menunjukkan, Orang cenderung spending money 30% lebih banyak ketika pakai dompet elektronik, Dibandingkan ketika pegang duit kertas biasa. Apalagi, dompet elektronik banyak menawarkan diskon-diskon khusus bagi pengguna uang elektronik tersebut.

Kita yang pada awalnya tidak berminat sama sekali membeli produk tertentu, mendadak jadi kepengen beli, Karena merasa “sayang” ada diskon dan cash back setengah harga. Kehadiran uang dan dompet elektronik tentunya memiliki banyak dampak positif. Salah satunya, adalah kemudahan transaksi dimana saja, Juga benefit dimana kita bisa menikmati diskon dan promo khusus tertentu.

Dan meningkatnya spending pengguna uang elektronik pun sebenarnya bukan hal yang selalu buruk. Dengan meningkatnya spending, maka perekonomian suatu daerah akan berputar lebih cepat akibat cepatnya uang beredar di masyarakat.

Sehingga di satu sisi, hal ini bisa memberikan dampak yang sangat positif bagi perekonomian secara makro, namun tentunya, kita tetap harus mempertimbangkan dan memperhitungkan pengeluaran dari dompet elektronik ini.

Bagaimanapun, dalam merencanakan keuangan yang baik dan benar adalah, kita harus mengetahui kemana saja kira-kira uang kita mengalir. Bocor-bocor halus yang sulit dirincikan bisa saja kita alokasikan pada pos “pengeluaran tak terduga”, misalnya.

Budget untuk menikmati diskon-diskon khusus bisa kita alokasikan pada pos “kesenangan” atau saya sering sebut pos “foya-foya”. Jadi, mengatur keuangan sebenarnya gampang kan.

Jangan sampai bingung lagi ya, gajian bulan ini keluar buat apa aja.



Selasa, 29 September 2020

Lembaga Dan Penyedia Jasa Keuangan Yang Wajib Kamu Tahu

Lembaga Dan Penyedia Jasa Keuangan Yang Wajib Kamu Tahu

 


Kita bahas sedikit tentang beberapa Lembaga dan penyedia jasa keuangan di Indonesia, Agar lebih paham tentang bagaimana mekanisme dan cara negara mengatur Instrumen keuangan di Indonesia

Yang pertama adalah Bank Indonesia.
Bank Indonesia berbeda dengan bank umum komersil. Ini adalah Bank Sentral yang berfungsi untuk mengatur dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, termasuk mengedarkan uang rupiah di Indonesia. Bank Indonesia juga mengatur bank umum komersil lainnya.

Yang kedua, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
OJK ini ibaratnya polisi dalam dunia lembaga keuangan, dimana OJK bertugas mengatur, mengawasi, menyelidiki, dan memeriksa seluruh kegiatan di sektor Jasa keuangan.

OJK ini memiliki fungsi yang sangat vital dalam kegiatan Jasa keuangan. Oleh karena itu, penting bagi kita, sebelum melakukan investasi atau menyimpan dana, untuk memastikan apakah perusahaan tersebut sudah terdaftar OJK atau belum.

Yang ketiga adalah LPS, atau Lembaga Penjamin Simpanan.
LPS ini fungsinya menjamin simpanan nasabah di perbankan, sehingga meningkatkan rasa percaya masyarakat untuk menyimpan dana mereka di Perbankan. Jadi kurang lebih LPS ini fungsinya mirip seperti asuransi untuk Bank umum. Kalu-kalau ada masa krisis terjadi, LPS akan menjamin kerugian dana nasabah yang tersimpan di perbankan.

Yang keempat adalah Perbankan. 
Sepertinya sudah banyak yang tahu ya, gak akan kita bahas banyak. Intinya, ini adalah lembaga untuk kita melakukan simpan pinjam. Produk yang disediakan meliputu Tabungan, Deposito, pemberian Kredit, baik kredit konsumtif maupun kredit produktif, juga penyediaan jasa save deposit box.

Yang kelima, Perusahaan Manajemen Investasi.
Mereka adalah perusahaan resmi yang memiliki izin dari OJK untuk mengelola dana portofolio nasabah secara kolektif di Pasar Modal. Produk yang mereka jual dikenal dengan nama Reksadana, dimana dana nasabah secara kolektif akan diinvestasikan pada produk-produk di pasar modal.

Yang Keenam adalah Perusahaan Sekuritas.
Singkatnya, mereka adalah perusahaan yang memiliki izin untuk melakukan perdagangan efek atau Penjamin emisi efek. Oh iya, efek itu dalam bahasa inggrisnya disebut “Security”, yang artinya segala jenis surat berharga yang bernilai dan bisa diperdagangkan. Jadi maksudnya perusahaan Efek itu, berarti perusahaan ini memiliki izin untuk memperdagangkan sertifikat, saham, obligasi, reksadana, atau surat berharga lainnya yang sesuai dengan regulasi pemerintah.

Nah profesi di perusahaan investasi tidak sembarangan. Beberapa diantaranya membutuhkan sertifikasi profesi khusus, Seperti sertifikasi untuk menjadi Wakil Perantara Perdagangan Efek (WPPE) yang biasanya disebut Broker Dealer, lalu ada juga Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE) yang biasanya disebut underwriter, juga ada Wakil Manajer Investasi yang biasanya disebut Fund Manajer atau Investment Company.

Nah, Jadi, untuk bisa mengelola dana nasabah secara resmi dan sesuai dengan regulasi yang berlaku, prosesnya tidak sembarangan. Orang tersebut harus lulus sertifikasi profesi terlebih dahulu. Maka kalau sampai ada yang menawarkan produk investasi pasar modal, tanya dulu pengelolanya apakah resmi terdaftar di OJK, dan pengelolanya memiliki sertifikasi profesi resmi?

Jadi, sekarang sudah tahu kan bedanya Bank Mandiri, Mandiri Investasi, dan Mandiri Sekuritas?

 


Senin, 28 September 2020

Ini Dia Investasi Yang Pasti Untung! - Eh, Tapi Memangnya Ada?

Ini Dia Investasi Yang Pasti Untung! - Eh, Tapi Memangnya Ada?


“eh, aku punya uang lebih nih. Diapain ya enaknya?” Ini pertanyaan yang umum banget ditanyain sama teman-teman saya

“emang kamu mau buat apa? Dan mau yang kayak gimana?” Saya jawab secara sponton

“hm, gak tau sih. Pengen yang banyak returnya. Terus resikonya kecil. Biar cepet kaya. Ada gak?”

Saya langsung tepok jidat denger jawaban semacam ini. Dan ini bukan sekali dua kali, tapi sering. Yang perlu digaris bawahi dalam percakapan ini adalah, Bahwa dia punya uang lebih, tapi gak tau mau diapain uangnya.

Masih mending sih ini masalahnya, punya uang lebih. Yang pusing itu kalau punya utang banyak tapi gak tau gimana bayarnya. Pusing dah tuh. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, bahwa siapapun pasti Mencari cara agar uangnya bisa diinvestasikan ke tempat yang bisa memberikan return tinggi, dan dengan resiko minim.

Seperti yang digembar-gemborkan motivator diluar sana, Investasi yang banyak, biarkan uang bekerja untuk kita, jadi kita gak perlu kerja keras. Tinggal rebahan di rumah bisa dapet duit.

Namun sayangnya, fakta hidup bisa jadi tidak seindah ucapan manis motivator di seminar mlm. Atau agen-agen asuransi atau broker investasi, yang padahal mah mereka juga dapet duit itu dari komisi jualannya, bukan dari return investasinya.

Bisnis dan investasi memang adalah kendaraan ideal menuju kebebasan finansial. Dan memang betul bahwa kalau ingin memiliki kebebasan finansial, Pondasi bisnis dan investasi yang kokoh mutlak dibutuhkan.

Namun, dua kendaraan ini amat sulit untuk dikendarai, dan butuh skill ekstra. Setiap pebisnis sukses, dan investor sukses, paham betul beratnya mengelola dua hal ini. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memahami segala aturan mainnya, Dan segala resiko terburuk yang mungkin akan muncul, termasuk hilangnya sebagian atau seluruh modal yang ditanamkan.

Jangan mau ujuk-ujuk menyerahkan seluruh uang simpanan kita, Yang sudah didapat dengan kerja keras banting tulang setiap hari, Kepada siapapun untuk bisnis apapun, tanpa mempelajari skemanya, Mengetahui resikonya, dan menyiapkan jaring pengaman bagi diri kita sendiri.

Apalagi ke agen asuransi atau agen broker investasi. Saya gak bilang mereka semua jelek loh ya. Ada juga agen-agen ini yang keren, dan produknya berkinerja baik. Tapi jumlahnya barangkali bisa dihitung jari saja.

Diluar sana itu banyak banget oknum yang jago memanfaatkan kepolosan orang-orang gak ngerti finansial, yang pengen investasi duitnya dengan iming-iming imbal Hasil 25% dalam setahun, dan minim atau bahkan tanpa resiko.

Padahal bisa jadi, mereka itu dapet duitnya dari komisi jualan, Gajian rutin bulanan, atau dari htm tiket seminar di hotel-hotel mewah itu. Lalu tidak lama setelahnya, perusahaan tersebut Diciduk polisi karena terindikasi investasi bodong, Atau dimainin di saham gorengan yang anjloknya bisa jauh banget.

Lalu ketika rugi, berdalih kepada investor dengan seribu satu alasan “oh iya, ekonomi lagi gak menentu”. Atau “aturan pemerintah lagi sulit” atau “bisnis ini lagi sepi peminatnya”.

Kalau oknum itu mah gak ada masalah, mau investasinya untung atau rugi. Mereka gak peduli. Karena toh sudah dapat komisi sejak awal investor menanamkan modalnya. Padahal kalau sekiranya kita mau lebih cerdas sedikit saja, Dan tidak keburu tergiur bujuk rayu oknum agen investasi bodong, Mudah saja kita mendeteksi kejanggalan investasi tersebut.

Jika memang betul ada investasi yang bisa memberikan imbal hasil diatas 25% dalam setahun, Dengan minim atau bahkan tanpa resiko sama sekali, Buat apa mereka sibuk cari nasaba, hah?

Buat apa? Capek-capekin aja.
Mending pinjam duit ke bank sekalian aja. Bank bisa kasih dana pinjaman dengan bunga 17% setahun. Kalau investasi itu betul bisa kasih profit 25% setahun, Dan bunga bank 17% setahun, Maka masih ada selisih untung profitnya.

Gak perlu mereka pusing cari investor dan nasabah. Tinggal ongkang-ongkang kaki aja sambil santai di pantai. Tapi, ya mereka gak bakal lah pinjam uang ke bank. Mereka mungkin akan bilang:
“kami ingin bapak/ibu juga menikmati profit dari investasi kami”

Padahal faktanya mah, bank itu pinter, gak bisa dibodohin dengan mekanisme investasi bodong ala mereka.



Ini Dia 7 Pos Alokasi Wajib Keuangan Yang Wajib Kamu Ketahui

Ini Dia 7 Pos Alokasi Wajib Keuangan Yang Wajib Kamu Ketahui


 

Alokasi pengeluaran setiap orang bisa berbeda beda karena kebutuhan setiap orang juga berbeda yang masih belum menikah, tentu beda dengan yang sudah menikah. Yang baru menikah, beda dengan yang sudah punya anak dua. Yang punya tanggungan anak juga pasti beda dengan yang juga harus menanggung mertua.

Juga berbeda antara karyawan yang kerja kantoran bergaji tetap, Dengan freelancer, apalagi dengan business owner. Variabelnya banyak sekali, Belum lagi menyesuaikan antara kebutuhan dan keinginan, yang bagi sebagian orang juga sulit.

Misalnya makan itu butuh. Makan di resto fine dining itu keinginan.

Tapi semua itu bisa deselesaikan dengan budgeting, menyesuaikan pos alokasi keuangan. Secara umum, ada 7 pos alokasi wajib keuangan.

Yang pertama, cicilan atau utang.
Entah utang ke perusahaan, teman, keluarga, pastikan kewajiban ini menjadi prioritas. Jadilah orang yang bertanggung jawab. Gak mau kan sampai viral di Internet gara-gara gak bayar hutang?

Yang kedua, Kebutuhan pokok.
Termasuk juga sebgaian sekunder, yang pasti akan keluar setiap hari atau setiap bulan. Uang belanja bulanan, tagihan listrik, tagihan air, biaya internet, uang sekolah anak, ongkos transportasi, sewa rumah, lain sebagainya.

Yang ketiga, Dana darurat.
Tabungan yang wajib banget setiap orang punya, terutama jika sudah punya tanggungan keluarga. Jumlahnya paling tidak 6 kali lipat hingga 12 kali lipat kebutuhan pokok bulanan. Safety net paling utama kalau-kalau hal buruk terjadi pada kita. Musibah, bencana, kehilangan sumber penghasialn, termasuk juga masa sulit seperti pandemi Covid sekarang ini

Yang keempat, Investasi.
Fungsi Investasi adalah bagaimana caranya agar uang bisa bekerja untuk kita, sehingga jumlahnya bisa bertambah. Instrumennya, ada berbagai macam seperti Obligasi, Reksadana, Saham, atau Investasi langsung ke UMKM melalui crowd funding.

Investasi tentunya memiliki resiko, sehingga sangat perlu merencanakan alokasinya sesuai resiko yang dimiliki. Misalnya, Investasi di Deposito atau logam mulia, memiliki resiko yang kecil, namun profitnya kecil juga. Sementara Investasi di pasar modal, memiliki resiko yang lebih besar, juga dengan imbal hasil yang besar pula.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk memahami mekanisme kerja dari suatu investasi, Memahami resiko dan siap menanggung hingga resiko terburuknya, sebelum memutuskan akan menempatkan modal kita dimana.

Yang kelima, Proteksi.
Ini adalah jaring pengaman yang juga tidak kalah penting. Proteksi disini adalah Asuransi. Asuransi meliputi Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan. Kalau kita dalam keadaan sehat dan nyaman, proteksi ini seringkali disepelakan.
“ah namanya ajal, sakit dan sehat kan sudah ditentukan sama yang maha kuasa”

Betul sih, tapi mari kita berfikir dengan lebih rasional. Ajal itu pasti. Musibah juga bisa jadi datang kapan saja. Kita tidak bisa prediksi kedatangannya dan tentunya tidak ada yang berharap untuk dapat musibah.

Namun yang bisa kita lakukan, adalah antisipasi jika hal tersebut tiba-tiba datang. Jangan sampai ketika hal buruk terjadi pada kita atau orang yang kita sayang, kita langsung pusing dan uring-uringan. Cari utangan sana sini agar bisa istri bisa berobat. Atau cari pinjaman biar anak tetap bisa makan besok gara-gara pencari nafkah utama meninggal

Kalau pencari nafkah utama meninggal, bisa jadi satu keluarga juga akan hidup kesusahan selama tahun-tahun awal. Lalu, coba lihat berapa banyak orang langsung jatuh miskin mendadak akibat harus bayar biaya mahal untuk operasi dan pengobatan demi mendapatkan kembali kesehatannnya

Pemerintah sudah punya program BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Kalau gak mau beli asuransi swasta, paling tidak jangan sampai tidak punya BPJS. Meskpun BPJS banyak kekurangannya, tapi percaya deh, masih lebih banyak keuntungannya.

Kita akan bahas perihal asuransi ini nanti dengan lebih detail.

Yang keenam, Sosial
Masyarakat Indonesia, adalah masyarakat yang bertuhan. Dan semua agama memiliki cara sedekahnya atau berdermanya masing masing. Dalam islam ada Ziswaf, Zakat, Wakaf, Infaq, Shodaqoh. Dalam Kristen ada persenan atau persepuluh, Dalam agama budha dan hindu, ada Berderma

Alokasi sosial ini saya rasa cukup penting, karena kita sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri, dan perlu untuk saling tolong menolong. Rutin bersedekah juga menanamkan rasa bersyukur kita kepada Tuhan, karena sudah diberikan harta yang lebih dari cukup.

Yang ketujuh, pos kesenangan.
Ini yang juga gak kalah penting perlu kita anggarkan. Pos ini adalah segala sesuatu yang (biasanya) gak punya manfaat atau gak penting-penting amat, tapi membuat hati dan jiwa kita bahagia. Travelling, kulineran, fashion branded, barang lucu, hobby, langganan Netflix, beli item game online, dan semacamnya.

Jadi ini semua gak salah, selama pos-pos lainnya sudah terpenuhi, sehingga jangan sampai semua kesenangan ini over budget, yang justru malah bikin kita stress dan menyesal di masa depan.

“kenapa sih gue tadi beli ini?” Pernah ngerasa ngomong begitu?