Membongkar Mitos Air Minum Yang (Katanya) Berkhasiat (Part 2)

#Mitos2: Air minum dengan PH tinggi (biasanya +8) lebih bagus untuk kesehatan.

Pada postingan sebelumnya disini, kita sudah membahas bahwa tidak benar jika air minum yang mengandung oksigen itu lebih sehat. Kali ini, kita akan bahas tentang air minum dengan PH alkali (PH+8) yang juga digembar-gemborkan lebih sehat. Benarkah demikian?



#Fakta : Air dengan PH tinggi hampir-hampir tidak memberi manfaat bagi tubuh

Iklan air minum dengan PH diatas 7 biasanya digembar-gemborkan dengan cukup fantastis. Dikatakan bahwa air ini ukuran molekulnya lebih kecil karena proses elektrolisis, rasa lebih enak, mudah diserap tubuh, sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas, menetralkan PH tubuh, bahkan hingga klaim bisa menyembuhkan kanker, tumor, dan diabetes!

Tapi apa benar klaim yang mereka sebutkan?

Kalau kita mau jeli sedikit saja, kita bisa bongkar mitos tersebut dengan ilmu IPA yang dulu sempat kita pelajari di SMA.

Ketika kita minum air, tentunya kita semua tahu bahwa air tersebut pasti akan transit dulu di lambung yang punya PH sangat asam sebelum menuju ke usus untuk penyerapan. Lambung membutuhkan kondisi asam untuk bekerja, yaitu PH 1.5 - 3.5. PH ini cukup kuat untuk melarutkan besi dan seng. Jadi mau minum air sabun basa pun, otomatis PH lambung akan menjadikannya asam lagi.

lambung kita perlu kondisi asam untuk mencerna makanan yang kita telan. Basa hanya berguna kalau kita telat makan atau lambung memproduksi terlalu banyak asam, itulah sebabnya obat-obat maag manapun yang kita lihat di pasaran pasti isinya tablet/larutan basa (biasanya Mg(OH)2) untuk menetralkan asam berlebih tersebut. 

Selanjutnya, penyerapan di usus itu terjadi di pH lebih tinggi, yaitu sekitar 8.5 karena larutan asam itu bisa merusak dinding usus kita. Jadi, kenapa bisa berubah menjadi basa?

Nah, ketika melewati usus 12 jari (duodenum), kelenjar empedu dan pankreas akan bekerja sama, di mana empedu dari kelenjar empedu dan bikarbonat dari pankreas menetralkan campuran makanan yang udah dicerna lambung dan bersifat asam (bubur kim). Jadi, tanpa konsumsi air alkali pun, sistem pencernaan kita sudah bisa mengatur tingkat keasaman/kebasaan yang berbeda-beda untuk fungsi dan organ yang beda. Fungsi tubuh dalam mengatur kestabilan keadaan seperti suhu dan pH di masing-masing tempat disebut homeostasis.

Jadi sudah paham kan, kalau tubuh kita sudah Tuhan ciptakan dengan sedemikan keren nya.

 Faktor yang menyebabkan asam-basa pada tubuh bukan semata-mata karena rasanya asam maka akan menjadikan PH tubuh asam, dan rasanya basa (pahit) maka akan menjadikan PH tubuh basa. Kita tahu bahwa jeruk nipis rasanya asam, namun didalam tubuh kita jeruk tersebut akan memberikan "residu" yang basa. Sebaliknya, kita tahu bahwa daging gosong rasanya pahit, namun didalam tubuh dia akan meninggalkan "residu" asam yang merusak tubuh.

Selain itu ada juga sistem kesetimbangan asam-basa pada darah yang disebut Buffer, agar PH darah tetap berada pada kisaran 7.3-7.4. Berubah sedikit saja akan mengacaukan sistem tubuh. Apabila PH menjadi lebih asam, maka dengan otomatis akan dinetralisir dengan menggunakan persediaan basa yang dimiliki tubuh (kebanyakan dalam bentuk natrium/sodium-bikarbonat).

Namun pada kenyataannya, tubuh tidak terus menerus memiliki ion bikarbonat. Persedian basa sebenarnya hanya sebagai penunjang (back up) dengan jumlah yang sangat terbatas agar tubuh tidak teracuni dengan asam berlebih dari makanan. Semua sel kanker dan tumor merupakan jaringan yang sangat tinggi bermuatan residu asam.

Coba tebak makanan apa yang paling banyak mengandung "abu"basa. Yups benar! jawabannya : Sayur dan buah segar.

Maka tidak heran kalau raw food dijadikan asupan nutrisi utama bagi penderita kanker.

Jadi sudah jelas ya, Air alkali dengan PH+8 sesungguhnya hampir hampir tidak memberi manfaat bagi tubuh.

Kalau kamu mau senantiasa menjaga agar tubuh sehat dan terbebas dari penyakit, caranya mudah dan murah saja: Konsumsi buah dan sayur segar.

You Might Also Like

0 Comments