Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2021

"Cashless Effect",  Bikin Kamu Tambah Boros

"Cashless Effect", Bikin Kamu Tambah Boros



Guys, pernah gak sih kalian merasa kalau belanja pakai uang digital, kartu kredit, atau pay later, rasanya bukan tambah hemat tapi tambah boros?

 

Ada sebuah teori yang disebut "Cashless Effect" dimana kita akan cenderung menghabiskan  uang lebih banyak ketikan menggunakan uang digital atau bahkan uang yang tidak kita miliki sama sekali lewat kredit atau pay later.

 

Nah disini Ada sebuah data menarik yang dirilis Katadata dan Kredivo,

Dikatakan bahwa jumlah transaksi paylater selama pandemi meningkat cukup signifikan,

Dan pengguna baru meningkat hingga 55%.

 

Kenapa orang jadi suka pakai pay later?

Jawabannya beragam, bisa jadi karena memang butuh tapi gak punya uang,

Bisa jadi karena ada promo khusus pembayaran paylater, jadi kalau bayar belanjaan dengan cara berutang, kita malah dikasih diskon yang lebih besar daripada bayar cash.

Atau alasan yang paling umum adalah karena memang tidak bisa menahan godaan untuk membeli barang yang sebenarnya gak pelu-perlu amat.

 

Apapun alasannya, paylater atau sistem pembayaran kredit, sukses membuat banyak orang semakin konsumtif.

Karena pada dasarnya pay later didisain untuk mengakomodir orang yang punya sifat Impulse buying, Alias belanja bukan karena butuh tapi karena pengen doang.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pelaku bisnis untuk membesarkan pembayaran lewat metode paylater

 

Adanya Paylater ini Bagus gak sih sebenernya?

Ya bisa jadi bagus, bisa jadi enggak.

 

Disatu sisi mungkin aja ada orang yang beneran butuh paylater, jadi ini sangat membantu mereka.

Disisi lain, dengan adanya pay later atau pembayaran kredit, secara makro tingkat konsumsi orang itu meningkat, dan berdampak pula pada perputaran ekonomi yang semakin cepat. Jadi bagus juga untuk menggerakan roda perekonomian di Indonesia.

 

Namun disisi lain, masalah akan mulai bermunculan ketika kita gak bisa bayar tagihan atau cicilan yang tepat waktu. Bunganya besar bos, belum lagi debt collectornya bisa galak.

 

Hal ini mulai menjadi masalah di beberapa negara, salah satunya Korea selatan. Ada banyak orang bangkrut karena terjebak utang rumah tangga seperti paylater dan pinjaman online.

 

Sebenernya kita cukup bersyukur dengan regulasi kredit, paylater, dan pinjol di Indonesia yang dibuat oleh pemerintah. Karena meskipun belum sempurna dan banyak kurangnya sana-sini, tapi menurut saya pemerintah sudah cukup bisa mengontrol keberadaan pembayaran paylater ini.

 

Saya pribadi, sangat menghindari paylater, dan juga menyarankan kalian untuk jauh-jauh dari pay later, meskipun sekilas promonya terlihat menggiurkan.

Karena paylater itu membiasakan diri kita untuk konsumtif dan impulse buying. Kita jadi gampang beli barang dan gak dipikir nanti keuangan kita bakal sehat atau enggak kedepannya.

Jumat, 05 Februari 2021

 Perlukah kita menggunakan Dinar-Dirham di Indonesia?

Perlukah kita menggunakan Dinar-Dirham di Indonesia?

Mari kita bahas sedikit tentang pasar Muamalah yang baru-baru ini Digerebek polisi karena menggunakan Dinar-Dirham dalam transaksinya. Tentunya menuai banyak pro dan kontra, namun saya pribadi pro dengan ditutupnya pasar muamalah ini.


Perlukah kita menggunakan Dinar-Dirham di Indonesia?
Jawabannya: TIDAK PERLU.

Kita sudah punya Rupiah sebagai alat tukar yang sah di Indonesia. Gak ada yang salah sebenarnya dengan konsep memiliki alat tukar antara satu negara dengan negara lain. Hal ini pun sudah lumrah sejak zaman dahulu, dimana setiap kerajaan menerbitkan koin emas, perak, dan perunggu sendiri sebagai identitas kerajaan masing-masing.

Namun kenapa saya terus ngomongin soal emas dan perak?

Yang perlu kita kritisi disini adalah, emas dan perak atau logam mulia berharga lainnya sebagai “UNDERLYING ASSET”, suatu aset yang mendasari dan menjamin nilai dari rupiah kita. 


Selama ini, Rupiah yang kita pegang, gak ada jaminannya selain “kepercayaan pada pemerintah”. Rupiah itu hanya uang kertas. Cadangan emas Bank Indonesia hanya kurang dari 10% dari Jumlah Uang beredar di masyarakat. Begitupun Dollar di Amerika dan mata uang di hampir seluruh dunia pun sama saja. Hanya kertas, tanpa ada jaminan asetnya.


Sebelum tahun 1971, Setiap Dollar ADA JAMINAN EMASnya. Namun setelah tahun 1971, Presiden Richard Nixon memutuskan Dolar tidak lagi dijamin emas.


Tahun 1946 setelah Indonesia Merdeka, Uang Rupiah juga memiliki jaminan emas, dimana 10 Rupiah senilai dengan 0.5 gram emas. Namun tidak lama setelah itu, Tahun 1949 setelah Konfrensi Meja Bundar (KMB), Emas dari rupiah dicabut, dan Rupiah tidak lagi dijamin dengan logam berharga.

Semenjak ditariknya jaminan logam mulia dari mata uang kertas, nilai Inflasi di banyak negara melonjak tajam. Hal ini perlahan mulai diwaspadai banyak pemimpin dunia, sehingga beberapa bulan lalu kita melihat banyak berita dimana mulai banyak Bank Central di negara lain menambah cadangan emasnya seperti China (yang paling massif), Russia, dan Amerika.


Tentunya yang dilakukan negara itu bukan ingin menjadikan emas dan perak sebagai alat tukar. Tapi ingin menjadikan logam mulia ini sebagai jaminan dari mata uangnya.


Rupiah, tetap kebanggaan Indonesia.
Ini udah keren, dan bangga-lah dengan Rupiah.




Sabtu, 23 Januari 2021

Pesan Untuk Kamu Yang Berencana Serius Trading / Investasi Saham Di Era Pandemi

Pesan Untuk Kamu Yang Berencana Serius Trading / Investasi Saham Di Era Pandemi

Saya sudah kenal dengan dunia saham sejak kuliah semester 4, sekitar umur 20 tahun. Saat itu karena masih sekolah dan gak punya uang banyak, maka saya hanya trading dari nominal kecil aja. 100rb, 200 rb. Usia saya saat ini 25 Tahun. Meski begitu, saya banyak belajar seputar saham dan analisisnya dari seminar di kampus, buku, dan ikut seminar berbayar di luar.

Saya mau cerita ini karena kelihatannya banyak banget trader Newbie di angkatan Corona, Mereka yang mencoba trading saham karena mungkin habis diPHK, atau sebatas tertarik melihat trend saham yang lagi naik tinggi

Meskipun sudah kenal saham dan sudah punya akun saham sejak kuliah dulu, Saya baru mulai serius trading saham setelah bekerja dan punya gaji sendiri. Sebagian gaji saya saya pakai untuk trading saham dengan sangat hati-hati. Masih sering loss, dan sesekali dapat profit juga. Tapi gak masalah, loss dan profit adalah tahap beajar kalau kita mau investasi apapun itu. Anggaplah itu uang "sekolah", karena dengan melalui fase Loss & Profit, mental dan psikologis kita akan sangat dilatih.

Alasan saya trading saham tentunya karena (gak munafik ya), pengen kaya dan dapet duit banyak. Mana ada orang investasi niatnya gak dapet duit sih, bener gak?

Saya banyak belajar dari investor saham terkenal yang sukses di dunia saham, belajar tekniknya, bukunya, seminarnya. Saya juga mempelajari teknik penipuan dan manipulasi seperti apa yang umum terjadi di pasar modal yang biasanya dipermainkan oleh Bandar saham (Mereka yang punya duit banyak dan bisa menggerakan harga saham).

Seriusan deh, grafik saham itu naik dan turun memang karena adanya supply dan depand. Namun Supply dan Demand gak selalu murni dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Tapi bisa juga dipengaruhi oleh Bandar saham atau "Big Money", mereka-mereka yang punya banyak uang sehingga bisa memanipulasi Supply-Demand di pasar saham. Tolong pelajari ini juga kalau kalian serius mau terjun ke dunia saham.

Robert Kiyosaki berkata, untuk bisa benar-benar ahli di dunia saham Wallstreet, butuh waktu minimal 5 Tahun dan harus merasakan rugi hingga minimal 100.000 dolar, dan banyak sekali praktik manipulasi di pasar saham.

Lanjut yaa.,

Karena sibuk kerja, saya menjadi trader jangka menengah. Gak tiap hari lihatin grafik seperti day trader atau scalper pada umumnya. Saya fokus di saham Bluchip dan atau saham yang memang prospeknya lagi kelihatan bagus.

Saat ini, portofolio saya berfariasi, ada yang merah dan hijau.
Tapi alhamdulillah total masih hijau dan profit.

Pesan saya buat yang mau belajar saham di era pandemi ini;
Saat ini, pasar saham memang dalam keadaan bullish, sehingga mudah menjebak newbie tergiur dengan profit besar dalam waktu singkat. Pahamilah, Kalian bukan jago trading saham, tapi kalian BERUNTUNG bisa dapat profit dengan menunggangi pasar yang sedang bullish.

Oleh karena itu, tetaplah hati-hati dan bijak dalam Investasi di dunia saham. Karena kembali lagi ke prinsip dasar. High Risk, High Return. Saham adalah instrumen investasi yang beresiko tinggi. Selalu gunakan uang "dingin" dalam transaksi saham, uang yang kalian siap kalau-kalau nilainya berkurang hingga 50% dalam waktu singkat.

HINDARI pakai uang panas, apalagi ngutang. Jangan. Beneran deh.
Dan terakhir, selalu upgrade ilmu. Karena sejatinya, tidak ada yang namanya kaya tanpa belajar dan kerja keras.

Kamis, 21 Januari 2021

Benarkah Binary Option (Olymp Trade, IQ Option, Binomo, dll) Bisa Memberikan Profit? Atau Hanya Scam?

Benarkah Binary Option (Olymp Trade, IQ Option, Binomo, dll) Bisa Memberikan Profit? Atau Hanya Scam?

Kalau ditanya "Apakah ada yang sukses dari aplikasi tarading seperti binomo dan olymp trade", maka jawabannya pasti ADA, yaitu developer aplikasinya, influencernya, dan tim marketingnya.

Namun saya agak ragu kalau ada orang yang benar-benar sukses dari trading di aplikasi tersebut. Saya pribadi adalah investor pasar modal aktif, sudah hampir 5 tahun menggeluti dunia saham, pasar modal, dan forex. Saya juga sudah pernah coba platform Olymptrade dan Binomo, juga platform judi semacam judi bola dan poker (Astagfirullah, iya itu dosa lama. mohon dimaafkan. udah insaf😥)

Trading binary option buat saya adalah judi berkedok investasi. Hanya tebak-tebakan apakah aset yang kita pilih dalam beberapa menit kedepan akan naik atau turun. Kalau naik, kita dapat profit. Kalau turun, loss semua uangnya. 

Dengan mekanisme ini, para influencer platform tersebut akan menyarankan bagaimana tekniknya biar bisa dapat cuan di platform ini. Misalnya, kalau sudah loss sekali, maka trading berikutnya jumlah uang "Taruhan"nya ditambah dua kali lipat agar bisa menutupi loss yang sebelumnya. Mereka juga akan membumbui trading ini dengan berbagai macam analisis teknikal seperti Moving average, fibonacci, dan sebagainya semata-mata biar terkesan "Ilmiah" dan "Terpelajar".

Namun sayangnya, Platform sistem ini sudah punya semacam mekanisme kecerdasan buatan untuk memainkan psikologis tradernya. Awal-awal kita trading, umumnya kita akan mulai dari uang sedikit dulu untuk coba-coba. pada saat tahap awal ini, sistem trading akan memberikan kita rasio kemenangan yang tinggi. Ini membuat pemula merasa senang dan kecanduan.

Karena sudah senang dengan profit yang dirasa lumayan, perlahan trader akan tertantang untuk menambah saldonya sedikit demi sedikit. Sampai pada tahap tertentu, biasanya beberapa hari setelah rutin trading, maka rasio menang akan semakin turun, dan kita akan semakin rugi.

Yang bikin seram dari Judi adalah, dia bisa memainkan psikologis kita sedemikian rupa sehingga membuat kita buta arah. semakin kita rugi, bukannya berhenti, maka kita akan terpacu untuk menambah dana lagi dengan harapan bisa baik modal dari uang yang sudah pernah loss sebelumnya. (Saya jadi paham betul mengapa agama mengharamkan judi dan mengatakan judi adalah permainan SETAN)

terus suntik dana…,
Terus tambah..,
Tambah lagi….
Dan tanpa sadar kita sudah loss banyak uang.

Ini tidak seperti trading saham atau forex beneran loh ya. Kalau trading saham, ketika harga turun, kita masih bisa simpan sahamnya dan berharap mungkin beberapa tahun kemudian akan naik lagi. Atau ketika kita beli dollar dan saat itu turun, kita bisa berharap nilainya naik lagi. Namun kalau platform trading binary option seperti Binomo, Olymptrade, IQ Option, FBS, kita gak punya "asetnya".

Kalau loss, ya hilang aja gitu duitnya.

Sama saja seperti judi togel, judi bola, judi poker, dan platform judi lainnya. Yang sukses dari dunia perjudian adalah bandar Judi. dan bandar Judi itu GAK MAIN JUDI.

Yang perlu digaris-bawahi adalah: Platform Binary option TIDAK DIAWASI OJK dan SUDAH SERING DI BANNED OLEH PEMERINTAH. Tapi iklannya masih terus-terusan tampil di sosmed kita.
Tidah hanya itu, FBI AMERIKA juga sudah membuat peringatan di website resmi perihal Fraud dari trading binary option yang bisa dibaca disini

Pemerintah dan media masa pun sudah sering menginfokan bahaya fraud dan scam yang mungkin mengancam dari platform broker investasi ini, seperti yang bisa kita baca disini.

Udah sering saya dengar cerita orang rugi puluhan hingga ratusan juta gara-gara loss di platform Binary Option semacam ini. Jadi, saran saya kalau kamu sebatas mau iseng coba-coba memacu adrenalin dan keberuntungan, silahkan saja.

Tapi jangan lupa bahwa ini adalah platform JUDI. Sehingga meskipun manis di awal, pada akhirnya rasio kehilangan uang JAUH LEBIH BESAR daripada rasio dapat uang.


Note: Tulisan ini sebelumnya sudah pernah saya Publish di Quora. Namun tiba-tiba tulisan saya di Banned oleh Quora karena beberapa orang menanggap tulisan saya fraud

Sabtu, 31 Oktober 2020

Ayo Jaminkan Setiap Rupiah Kita Dengan Emas!

Ayo Jaminkan Setiap Rupiah Kita Dengan Emas!




Saya masih ingat, awal tahun 2019 lalu saya membuka rekening tabungan emas di Pegadaian.

Produknya pegadaian ini menarik minat saya, karena kita bisa beli emas dan langsung otomatis terdeposit dalam akun rekening emas milik kita.  Jadi konsepnya adalah menabung emas, dimana nilainya bisa naik dan turun sesuai nilai emas saat itu.

 

Kalau kita punya 11 juta rupiah, maka rekening pegadaian kita akan berisi 10 gram emas. BUKAN rupiahnya, tapi gram emasnya. Emas ini pun nantinya bisa dijadikan bentuk emas fisik jika diinginkan. Dengan tambahan biaya tentunya

 

Tentunya ini bukan tabungan yang ditujukan untuk jangka pendek, karena ada selisih harga jual dan harga beli emas. Pastinya harga kita beli emas, akan lebih mahal daripada harga kita jual emas. Beda harganya bisa sekitar 80ribu sampai dengan 100 ribu per gramnya.

 

Meski begitu, saya tetap tertarik, karena kita tidak perlu pusing simpan emas di rumah, yang bisa khawatir dicuri atau dirampok orang jahat.

 

Tahun 2020, ada juga produk rekening emas serupa bernama Dinaran, dimana setiap rupiah yang kita simpan di Bank Dinaran, akan dikonversikan langsung dengan emas. Lebih keren lagi, karena Dinaran sudah terintegrasi dengan sistem pembayaran GPN, kita bisa langsung pakai emas kita untuk transaksi di merchat yang menggunakan EDC GPN di seluruh Indonesia. Bahkan sedang dalam tahap pengembangan pembayaran untuk sistem Barcode QRIS Payment

 

Dinaran ini akan mengkonversikan rupiah kita langsung kedalam gram emas. Misal kita punya 11 juta, dan dimasukkan kedalam rekening dinaran, maka yang muncul adalah nominal 10 gram emas. Emas ini apabila ingin dibelanjakan, sistemnya akan otomatis merubah kembali emas tersebut menjadi rupiah, barulah uangnya bisa digunakan untuk belanja, atau transfer ke rekening bank lain.

 

Ini adalah produk yang menurut saya sangat cerdas dan revulusioner. Dalam jangka panjang, bisa jadi akan menyelamatkan nasib keuangan banyak orang.

 

Kita sudah tahu bahwa dalam sistem ekonomi yang berjalan saat ini, ada “pencuri misterius” bernama INFLASI. Dibilang misterius karena dia tidak mencuri fisik nominal uang kita, tapi dia bisa mencuri Nilai atau Value dari uang kita.

 

Uang kertas 3 Juta sekarang bisa beli kambing besar. Uang kertas 3 juta yang sama sekarang, 10 tahun lagi mungkin cuman bisa beli kambing kecil, dan 30 tahun lagi mungkin cuman bisa buat beli Ayam.

 

Jadi, ada yang “mencuri” uang kita. Dan pencuri misteris itu bernama Inflasi.

 

Beruntungnya, Inflasi ini tidak bisa mencuri value dari logam mulia (precious metal), seperti Emas dan perak. Emas, perak, perunggu, sudah terbukti ribuan tahun lalu, sejak zaman romawi kuno hingga detik ini, Sebagai instrumen keuangan yang solid nilainya.

 

3 gram emas setibu tahun lalu bisa beli kambing. 3 gram emas sekarang bisa beli kambing. 3 gram emas seribu tahun kedepan pun akan bisa buat beli kambing.

 

Jadi, masih belum mau nabung emas dan perak?


 

Selasa, 27 Oktober 2020

Emas Dan Terpuruknya Rupiah - Part 3

Emas Dan Terpuruknya Rupiah - Part 3




Sejak pandemi Covid 2020, Pemerintah sudah mencetak banyak sekali uang rupiah (Masukkan nilainya). Hal ini terjadi karena masyarakat menahan uangnya, berusaha berhemat disituasi kondisi ekonomi yang sulit. Suatu hal yang tentunya umum dilakukan ketika ekonomi sulit, masyarakat tentunya hanya akan membeli kebutuhan yang bersifat pokok saja.

 

Dalam kondisi seperti ini, alih-alih mengatasi faktor utama yang memperlambat ekonomi, pemerintah nampaknya memilih untuk terus-terusan cetak duit dan berutang.

 

Tidak heran beberapa hari lalu, Indonesia mendapat peringkat negara ke 7 penghutang terbesar di Asia, dan peringkat 1 negara penghutang terbesar di Asia tenggara. Sebuah prestasi yang bikin geleng-geleng kepala.

 

Sebelumnya kita sudah bahas tentang Emas dan perak sebagai salah satu intrumen yang solid nilainya sejak ribuan tahun lalu, dan kita sudah membahas bahwa sejak uang kertas tidak lagi dijamin oleh emas dan perak pada tahun 1971, maka uang kertas adalah UTANG yang nilainya bisa anjlok kapan saja.

 

Saya masih ingat tahun 2019 lalu, saya beli emas dengan harga 690.000 per 1 gram di Gerai pegadaian. Bulan oktober 2020 ini, 1 gram emas yang sama, bernilai lebih dari 1 juta rupiah. Dalam 1 tahun saja, nilai emas terhadap rupiah sudah "meningkat" 30%.

 

Bagi saya, Emas adalah instrumen mempertahankan nilai dari mata uang. Bukan Investasi. Bagi Anda yang ingin menganggap Emas sebagai "Investasi" ya silahkan saja. Sah-sah aja, dan banyak juga yang beranggapan demikian, karena dunia Internasional pun memperlakukan Emas dan perak sebagai "Komoditas", Sehingga bisa di "trading", dan ada juga "Bandar" yang mengatur harganya.

 

Namun mari kita kritisi sedikit. Bagi saya, Emas adalah Emas. Emas bukan instrumen Investasi. Investasi itu bagi saya adalah sesuatu yang "tumbuh dan berkembang"

 

Emas dan perak yang Saya punya tidak pernah "tumbuh dan berkembang". 100 gram emas yang saya miliki sekarang, 10 tahun kemudian, 20 tahun kemudian, 30 tahun kemudian,

100 gram emas akan tetap 100 gram emas. Tidak tumbuh. tidak berkembang.

 

Tapi yang menarik adalah, Emas dan perak selalu bisa menjaga kestabilan nilainya sendiri. 1400 tahun lalu, 2,5 gram emas bisa beli 1 kambing. Sekarang, 2.5 gram emas bisa beli kambang. Dan saya pun percaya 1000 tahun kedepan, 2.5 gram emas akan tetap bisa beli kambing.

 

Berbeda dengan uang kertas. Rp 2.5 juta sekarang kita bisa beli kambing. 50 tahun lagi, jika pemerintah terus-terusan cetak uang dan berutang, apakah 2,5 juta bisa beli kambing? Saya yakin tidak. mungkin 2.5 juta hanya bisa untuk beli 1 ekor ayam.

 

Ya, ini adalah yang disebut Inflasi. Berkurangnya nilai mata uang akibat bertambahnya jumlah uang beredar di masyarakat secara massif dan terus menerus.

 

Inflasi adalah sistem paling cerdas untuk "Mencuri" dari penduduk masyarakat suatu negara, RP 2.5juta yang saat ini bisa saya pakai untuk beli kambing, 50 tahun lagi hanya bisa beli ayam. Sederhana saja, Kemana kambing saya? Dicuri oleh sistem bernama "Inflasi"

 

2020 ini, semakin menyadarkan kita, bahwa sistem keuangan seluruh dunia semakin menunjukkan kebobrokkannya. Harga emas yang semakin melambung tinggi, harusnya semakin menyadarkan kita, bahwa uang kerta kita "tidak baik-baik saja" 

Semakin melambung harga emas di suatu negara, semakin buruk ekonomi negara tersebut, dan semakin menegaskan betapa lemahnya mata uang negara tersebut.

 

Jadi, yuk mulai koleksi emas dan perak.

sekarang!


Jumat, 23 Oktober 2020

Emas Dan Terpuruknya Rupiah - Part 2

Emas Dan Terpuruknya Rupiah - Part 2

 


kita wajib sadar, bahwa uang kertas yang saat ini kita pegang bernilai "semu", tanpa jaminan logam mulia didalamnya. Harganya bisa naik turun sesuai kebijakan pemerintah, yang sayangnya, sering kali nilainya akan semakin turun.

 

Uang kertas saat ini hanyalah kertas, yang nilainya dijamin oleh logo burung garuda, logo Bank Indonesia, dan tandatangan presiden serta mentri keuangan.

That's it, and that's all.

 

Maka jangan heran, nilainya bisa berkurang tanpa kita sadari. 10 tahun lalu, uang Rp 10.000 bisa beli 2kg beras. Sekarang uang dengan nominal yang sama hanya bisa beli 1kg beras.

 

Tentunya Anda masih Ingat, bahwa pada tahun 1971, Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon Menghapus aturan bahwa uang kertas wajib dijamin oleh emas. Maka sejak saat itu, Uang kertas yang saya dan Anda pegang saat ini adalah UTANG.

 

Tidak sampai di situ, Bank didunia pun membuat aturan bahwa pemerintah boleh mencetak uang "sesuka hati mereka" dengan hanya menngunakan "BOND" atau "Surat Utang" atau "Obligasi". Sama saja. Intinya, setiap kali pemerintah cetak uang, atau print money, maka pasti akan meningkatkan utang negara.

 

Jadi uang kertas adalah utang, dan mencetak uang yang didasarkan pada utang akan semakin meningkatkan utang. Belum lagi memperhitungkan bunga dari setiap rupiah uang yang dicetak. Hal ini menjadikan utang, dalam utang, dalam utang, dan semakin banyak negara terpuruk pada utang.

 

Cetak uang tanpa didasari jaminan aset atau proyek, akan membuat jumlah uang beredar bertambah dan Inflasi meningkat. Beras yang dulunya seharga Rp 5.000 per kilo, karena ada terlalu banyak uang rupiah beredar, maka harganya menjadi Rp 10.000 per kilo.

 

Anda tentunya mulai sadar dengan kondisi ekonomi di tahun 2020 ini. Ini adalah masa yang sulit, dimana banyak sektor pereokonomian terpuruk, daya beli turun, dan menyebabkan deflasi di berbagai titik. Meskipun saat ini deflasi terus terjadi, pemerintah terus-terusan cetak uang, terus-terusan tambah utang, dengan harapan ekonomi bisa segera bergerak normal.

 

Jadi, sudah dapat gambaran kan, ketika satu atau dua tahun kedepan, ketika ekonomi perlahan pulih, dan uang beredar di masyarakat ada sangat banyak, maka apa yang akan terjadi setelahnya?

 

Yes, gelombang Inflasi besar-besaran. Semoga pemerintah sudah antisipasi, dan dollar bisa segera kembali ke 12.000. Eh, mungkin gak ya?