Serba Serbi Asuransi. Part 1: Asuransi Jiwa


Sepertinya banyak orang yang belum tau bahwa asuransi menjadi salah satu pos pengeluaran yang cukup penting dalam perencanaan keuangan. Sebenarnya mau memutuskan akan punya asuransi atau tidak, itu keputusan Kita. Tapi pastikan Kita tahu persis resiko, kelebihan dan kekurangan jika memutuskan untuk tidak beli asuransi.

Asuransi penting untuk memastikan bahwa kita "terlindungi" dari sekian banyaknya ketidakpastian dalam hidup, seperti sakit keras, kecelakaan, hingga kematian. Tentunya kita paham bahwa dalam setiap perencanaan proyek jangka panjang butuh yang namanya proteksi. Nah asuransi adalah pelindung rencana keuangan dan rencana masa depan kita. Jika kita mempunyai tanggungan, yang berarti ada orang yang "gak makan" kalau kita kenapa-napa, maka asuransi menjadi hal yang cukup vital.

Pada dasarnya hanya ada 2 asuransi yang umum. yaitu asuransi jiwa dan kesehatan. Asuransi lain seperti asuransi pendidikan, asuransi dana pensiun, dan asuransi haji adalah pengembangan lebih lanjut dari asuransi jiwa dan kesehatan. Jadi, jangan tertipu sama si agen asuransi ya.

Mari kita bahas dari asuransi jiwa terlebih dahulu.

Asuransi jiwa adalah asuransi yang melindungi jiwa kita. Singkatnya, kalau suatu hari nanti kita meninggal, cacat tetap total, atau mengalami penyakit parah lainnya yang menyebabkan kita tidak bisa beraktifitas normal, maka perusahaan asuransi akan memberi sejumlah uang kepada ahli waris kita (tertanggung). Asuransi ini penting dimiliki jika dan hanya jika kita mempunyai tanggungan (anak, istri, orangtua). Singkat kata, kalau seandainya ada orang yang gak bisa makan ketika kita kenapa-napa, maka milikilah asuransi ini.

Banyak sekali kasus dimana ada seseorang yang masih muda dan lajang dimana dia belum punya tanggungan, bahkan masih ditanggung oleh orang tuanya, yang punya asuransi Jiwa. Kebanyakan diantara mereka termakan oleh rayuan manis si agen asuransi. Tentu ini mubazir dan buang-buang uang, karena lebih baik dia Investasikan uangnya pada pos lain seperti Reksadana, misalnya.

Lalu, kenapa harus punya asuransi jiwa?

Anggaplah Mr.X adalah seorang ayah yang memiliki seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Atau bahkan ternyata Mr.X juga harus tinggal bersama orang tua dan mertua. Keluarga Mr.X sangat bergantung padanya, mulai dari makan, pakaian, hingga tempat tinggal. Mr.X dan istri tercinta juga sudah merencanakan agar anak-anak harus bisa sekolah tinggi di tempat yang bagus.

Selanjutnya, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga Mr.X jika seandainya dia tutup usia (meninggal), atau mengalami cacat tetap total sehingga tidak lagi bisa bekerja dan menafkahi keluarga? Tentu semua anggota keluarga yang Mr.X tanggung akan mengalami masa-masa yang sulit pada tahun-tahun pertama. Istri-nya mungkin harus kerja keras menjadi pengganti tulang punggung keluarga. Orang tua dan Mertua-nya mungkin harus ke panti jompo karena tidak sanggup mengurus mereka. Anak-anak Mr.X yang masih kecil mungkin tidak bisa mendapat pendidikan terbaik seperti yang Anda harapkan.

Singkatnya, keluarga Mr.X yang dulu hidup dengan nyaman harus kesulitan karena Mr.X telah tiada.
Bisa jadi malah keluarga Mr.X lebih sedih memikirkan kehidupan mereka setelahnya dibandingkan kepergian Mr.X itu sendiri.

Tentu tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi dan kita selalu berusaha agar hal itu tidak terjadi.
Namun masa depan tidak ada yang bisa menentukan. Asuransi Jiwa bisa membantu meringankan beban keluarga Mr.X.

Jika punya asuransi jiwa, maka setelah Mr.X meninggal, keluarganya tidak lagi perlu terlalu pusing memikirkan keperluan hidup setelahnya. Keluarga tenang dan Mr.X dialam sana juga bisa tenang.

Dalam islam, kita juga dianjurkan agar meninggalkan harta yang cukup untuk ahli waris jika kita meninggal, seperti hadist nabi berikut:

"Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia." (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628).

Saya pribadi sudah cukup banyak mendengar cerita tentang sebuah keluarga yang mengalami masa-masa sulit di tahun-tahun pertama ketika pencari nafkah utama mereka meninggal.

Persiapkanlah, rencanakanlah.

Jangan sampai keluarga Anda menjadi salah satunya.

You Might Also Like

0 Comments